Ruang
ICU Rumah Sakit Kasih Bunda, 03:00 dini hari…
“percayalah
semuanya akan segera membaik” entah, keberapa kalinya aku sudah mendengar
kalimat ini, huh…. Mereka tak tahu
betapa khawatirnya aku saat ini. Aku layaknya kapas, sangat tipis dan terlampau
lemah sedang ketakutan di tepi sungai. Takut terjatuh ke dalamnya, yah… takut
basah kuyup…
teringat tentang khawatir
yang telah menghantuiku, aku takut sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini,
aku takut tak bisa lagi menikmati setiap inchi keindahan yang Allah ciptakan,
aku takut untuk jauh dari orang-orang tersayangku. Apalagi setelah ku tahu aku sedang
berada di ruangan serba hijau ini, bukan ruangan serba putih lagi.
***
Sebuah pagi, sebelum
segalanya terjadi dan sebelum khawatir mendiami hati kecilku. Aku baru saja
bersiap-siap untuk ikut ayah ke Medan, menjenguk nenek yang sakit, beliau
sengaja tak mengajak ibu. Katanya lebih baik
ibu di rumah menemani citra, adik perempuanku yang sedang menghadapi UN di
sekolahnya.
Kembali tentang cerita perjalananku dan ayah
ke Medan, sebelum meninggalkan rumah aku merasa ada hal aneh, jantungku serasa
berdebar lebih kencang, aku sendiri tak tahu apa penyebabnya.
Di stasiun kereta api, bulu kudukku berdiri
begitu saja mendengar raungan kereta api di depanku, ini bukan kali pertama aku
berada di stasiun kereta atau bahkan menaikinya, tapi entahlah seperti ada yang
aneh saja dengan diriku. Kereta dan raungannya ini seperti singa yang siap
menerkamku. “ayah ke loket dulu,” begitu kata ayah kemudian berlalu dari
hadapan kami. Aku melihat ibu. Hhhh… berat sekali untuk pergi jauh dari ibu,
jarak Medan ke lampung tidaklah dekat. Aku masih ingin menatap kedalaman cinta
di matanya. Masih ingin terus merasakan dekap sayangnya setiap hari. dia
terlihat membereskan barang-barang ayah. Ku lirik Citra, dia sibuk
membolak-balik buku panduan UN yang kemarin ayah belikan untuknya.
“sibuk banget sih, kamu
pasti lulus” ucapku seraya mengacak-acak rambutnya.
“huh.. kak Nara selalu
menganggap remeh sesuatu” ah… citra. Respon yang membuatku gemas sekali.
“bukan meremehkan, tapi
yakin deh, kalau masih
SD dijamin lulus” Citra merengut, menyebalkan sekaligus lucu.
“Nara…” panggil ibu,
seakan memberi isyarat untuk berhenti mengganggu Citra. “cepat ambil ranselmu,
ayah sudah nunggu di sana.” Ucap ibu dan menunjuk posisi tempat ayah berdiri.
“ibu…” seruku lirih… ibu
menoleh dan kontan langsung memelukku, ugh! Pelukan hangat ini. Aku tak
ingin kehilangan pelukan sehangat ini.
“kamu kenapa sayang? Dari
tadi ibu lihat kamu cemas sekali,”
“Nara takut setelah ini
tak bisa kembali bertemu ibu” kali ini aku sesenggukan, aku menangis…
“hush! Kamu ini, jangan
ngomong sembarangan nduk” ibu melepas pelukannya, beliau sibuk mengusap air
mata di pipiku “sudah ayo cepat, kasihan ayah nunggu dari tadi” ajak ibu lagi
“citra… ayo nak!” ups Allah… air mata bukan hanya meleleh di pipiku tapi di
pipi beliau juga, beliau malah sibuk menghapus air mata di pipiku. Inilah kasih
sayang ibu yang katanya tak terhingga sepanjang masa.
***
“pakai selimutnya, udara
dalam perjalanan seperti ini tidak baik untuk kesehatan” ucap ayah, dalam satu
ruang kereta VIP ini kami memang hanya berdua. Satu jam berlalu. Ayah menimang-nimang
handphone di tangannya sedari tadi,
sibuk membalas SMS dari kerabat di Medan, mengabari mereka kalau kami sudah
berada di dalam
kereta. Aku masih diam, cemas, takut dan… ugh! Sebenarnya ada apa
denganku? Kekhawatiran yang sangat sudah menguasai hati dan pikiranku.
Kini jam sudah
menunjukkan angka 12, ku lihat ayah tertidur, kekhawatiranku bertambah. Takut
tak bisa lagi melihat ayah tidur sepulas ini, huh… tiba-tiba, terdengar
dentuman yang begitu keras, kereta bergetar sangat cepat, ayah terbangun. Lampu
kereta mati begitu saja. Terdengar teriakan gemuruh orang-orang.ternyata kereta
yang sedang ku tumpangi menabrak kereta yang lain. Oh tuhan… kenapa bisa?
Bukankah setiap kereta memiliki jadwalnya masing-masing?
“Nara ayo pegang tangan
ayah!” teriak ayah panik
“ Nara tidak bisa melihat
apa-apa”sesaat terlihat lampu sorot dari handphone
ayah menyinari. Aku bisa melihat keadaan sekitar. Termasuk tangan ayah, ku
coba menjangkaunya. Tapi… brukk!! Kereta oleng ke samping, aku terjatuh. Dan
prannggg…. Sebuah besi besar tubuh dari kereta menindihku, “Nara……” itu adalah suara terakhir ayah yang
ku dengar.
***
Rasa khawatirku memuncak
ketika ku tahu ini sudah hari ke 18 dari koma panjangku. Herannya aku bisa mendengar
segala dari sekitarku. Tangisan ibu, teriakan Citra, dan suara sendu ayah.
Sepertinya keadaan ayah lebih baik
dariku. Dan sore ini, ketika dokter mengabari mereka bahwa tak ada tanda-tanda
aku bisa bangun, ibu menangis sejadinya…ugh ibu aku mendengarmu, tapi aku tak
sanggup tuk sekedar buka mata.” Percayalah, semuanya akan segera membaik”
begitu kata ayah. Aku sudah lelah mendengar kalimat ini, kapan? Aku sudah tak
sabar ayah, tak sabar untuk kembali memelukmu. Ingin sekali ku buka mata
ini,aku sudah berselimut rindu yang sangat. Ingin ku curhat pada Allah segera
saja cabut nyawaku, atau buka mataku. Aku tak ingin menyiksa keluargaku lebih
lama lagi.
Allah…
kapan kau putuskan salah satu dari keduanya?


0 komentar:
Post a Comment