Saturday, May 12, 2012


Ruang ICU Rumah Sakit Kasih Bunda, 03:00 dini hari…
            “percayalah semuanya akan segera membaik” entah, keberapa kalinya aku sudah mendengar kalimat  ini, huh…. Mereka tak tahu betapa khawatirnya aku saat ini. Aku layaknya kapas, sangat tipis dan terlampau lemah sedang ketakutan di tepi sungai. Takut terjatuh ke dalamnya, yah… takut basah kuyup…
teringat tentang khawatir yang telah menghantuiku, aku takut sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini, aku takut tak bisa lagi menikmati setiap inchi keindahan yang Allah ciptakan, aku takut untuk jauh dari orang-orang tersayangku. Apalagi setelah ku tahu aku sedang berada di ruangan serba hijau ini, bukan ruangan serba putih lagi.
***
Sebuah pagi, sebelum segalanya terjadi dan sebelum khawatir mendiami hati kecilku. Aku baru saja bersiap-siap untuk ikut ayah ke Medan, menjenguk nenek yang sakit, beliau sengaja tak mengajak ibu. Katanya lebih baik ibu di rumah menemani citra, adik perempuanku yang sedang menghadapi UN di sekolahnya.
 Kembali tentang cerita perjalananku dan ayah ke Medan, sebelum meninggalkan rumah aku merasa ada hal aneh, jantungku serasa berdebar lebih kencang, aku sendiri tak tahu apa penyebabnya.
 Di stasiun kereta api, bulu kudukku berdiri begitu saja mendengar raungan kereta api di depanku, ini bukan kali pertama aku berada di stasiun kereta atau bahkan menaikinya, tapi entahlah seperti ada yang aneh saja dengan diriku. Kereta dan raungannya ini seperti singa yang siap menerkamku. “ayah ke loket dulu,” begitu kata ayah kemudian berlalu dari hadapan kami. Aku melihat ibu. Hhhh… berat sekali untuk pergi jauh dari ibu, jarak Medan ke lampung tidaklah dekat. Aku masih ingin menatap kedalaman cinta di matanya. Masih ingin terus merasakan dekap sayangnya setiap hari. dia terlihat membereskan barang-barang ayah. Ku lirik Citra, dia sibuk membolak-balik buku panduan UN yang kemarin ayah belikan untuknya.
“sibuk banget sih, kamu pasti lulus” ucapku seraya mengacak-acak rambutnya.
“huh.. kak Nara selalu menganggap remeh sesuatu” ah… citra. Respon yang membuatku gemas sekali.
“bukan meremehkan, tapi yakin deh, kalau masih SD dijamin lulus” Citra merengut, menyebalkan sekaligus lucu.
“Nara…” panggil ibu, seakan memberi isyarat untuk berhenti mengganggu Citra. “cepat ambil ranselmu, ayah sudah nunggu di sana.” Ucap ibu dan menunjuk posisi tempat ayah berdiri.
“ibu…” seruku lirih… ibu menoleh dan kontan langsung memelukku, ugh! Pelukan hangat ini. Aku tak ingin kehilangan pelukan sehangat ini.
“kamu kenapa sayang? Dari tadi ibu lihat kamu cemas sekali,”
“Nara takut setelah ini tak bisa kembali bertemu ibu” kali ini aku sesenggukan, aku menangis…
“hush! Kamu ini, jangan ngomong sembarangan nduk” ibu melepas pelukannya, beliau sibuk mengusap air mata di pipiku “sudah ayo cepat, kasihan ayah nunggu dari tadi” ajak ibu lagi “citra… ayo nak!” ups Allah… air mata bukan hanya meleleh di pipiku tapi di pipi beliau juga, beliau malah sibuk menghapus air mata di pipiku. Inilah kasih sayang ibu yang katanya tak terhingga sepanjang masa.
***
“pakai selimutnya, udara dalam perjalanan seperti ini tidak baik untuk kesehatan” ucap ayah, dalam satu ruang kereta VIP ini kami memang hanya berdua. Satu jam berlalu. Ayah menimang-nimang handphone di tangannya sedari tadi, sibuk membalas SMS dari kerabat di Medan, mengabari mereka kalau kami sudah berada di dalam kereta. Aku masih diam, cemas, takut dan… ugh! Sebenarnya ada apa denganku? Kekhawatiran yang sangat sudah menguasai hati dan pikiranku.
Kini jam sudah menunjukkan angka 12, ku lihat ayah tertidur, kekhawatiranku bertambah. Takut tak bisa lagi melihat ayah tidur sepulas ini, huh… tiba-tiba, terdengar dentuman yang begitu keras, kereta bergetar sangat cepat, ayah terbangun. Lampu kereta mati begitu saja. Terdengar teriakan gemuruh orang-orang.ternyata kereta yang sedang ku tumpangi menabrak kereta yang lain. Oh tuhan… kenapa bisa? Bukankah setiap kereta memiliki jadwalnya masing-masing?
“Nara ayo pegang tangan ayah!” teriak ayah panik
“ Nara tidak bisa melihat apa-apa”sesaat terlihat lampu sorot dari handphone ayah menyinari. Aku bisa melihat keadaan sekitar. Termasuk tangan ayah, ku coba menjangkaunya. Tapi… brukk!! Kereta oleng ke samping, aku terjatuh. Dan prannggg…. Sebuah besi besar tubuh dari kereta menindihku,  “Nara……” itu adalah suara terakhir ayah yang ku dengar.
***
Rasa khawatirku memuncak ketika ku tahu ini sudah hari ke 18 dari koma panjangku. Herannya aku bisa mendengar segala dari sekitarku. Tangisan ibu, teriakan Citra, dan suara sendu ayah. Sepertinya  keadaan ayah lebih baik dariku. Dan sore ini, ketika dokter mengabari mereka bahwa tak ada tanda-tanda aku bisa bangun, ibu menangis sejadinya…ugh ibu aku mendengarmu, tapi aku tak sanggup tuk sekedar buka mata.” Percayalah, semuanya akan segera membaik” begitu kata ayah. Aku sudah lelah mendengar kalimat ini, kapan? Aku sudah tak sabar ayah, tak sabar untuk kembali memelukmu. Ingin sekali ku buka mata ini,aku sudah berselimut rindu yang sangat. Ingin ku curhat pada Allah segera saja cabut nyawaku, atau buka mataku. Aku tak ingin menyiksa keluargaku lebih lama lagi.
Allah… kapan kau putuskan salah satu dari keduanya?

0 komentar:

Post a Comment