Saturday, May 12, 2012

Untuk Alan


Aku Tak Mengerti Cinta

“Di bola matamu....

              Kerinduan_”



“ Boleh dikata cinta itu semburat cahaya dalam hati, ini ada di dalam buku”
“ Aku tanya menurutmu, bukan apa yang ada dalam buku”
“ Menurutku? Hmm.. apa ya? Entahlah aku juga tidak tahu, lebih baik kau rasakan saja”
“ Dirasakan? Manis nggak ya?”
“ Bukan manis tapi indah”
“ Kalau indah bukan dirasa donk tapi dilihat”
“ Terserahlah! Kamu membuatku semakin bingung”
                Sebuah percakapan yang tak bisa ku lupakan sampai kapanpun, dia selalu bermain-main dengan cinta  tapi dia sendiri tak pernah tahu hakikat cinta. Dari percakapan inilah semuanya akan berawal indah, seperti yang dia katakan.

Serangkai cerita cinta yang sangat parah bila terus ku pikirkan. Ini tentang Alan, seorang laki-laki yang belum lama ini ku kenal sempat membuatku bingung  karena rasa yang dia oles di dinding hatiku, mungkinkah itu cinta? Aku tak mengerti adanya. Oh ya aku mengenal Alan sebatas teman di dunia maya saja. Aku pun tak pernah bertemu dengan dirinya, sekedar tahu dia dari photo-photo yang dia berikan pada teman-temannya.
                                                                  ***

 Aku tak pernah mempercayai sejuta cerita cinta yang dia lontarkan padaku, karena aku benar-benar tak ingin tenggelam pada cinta yang kata teman-temanku sangat menyakitkan itu. Aku tak mau buang-buang waktuku hanya karena cinta yang suka mengikat hati manusia. Hm… kembali pada Alan, menurutku dia merupakan teman yang baik dan sangat menyenangkan untuk sekedar menghibur diri.
“ Selamat pagi, is there something special to day?” sapanya pagi itu di telepon,, tiba-tiba saja senyumku merekah.
I think, nothing!, Alan, pagi banget kamu menelponku? Adakah sesuatu yang ingin kau bagi?”
“ Tidak ada, hanya saja rasanya pagi ini sangat membosankan kalau tidak ku gunakan untuk mendengar suaramu yang jernih” hm… dia mulai lagi.
“ Jernih? Emangnya air? Gombalisasi kamu,” Alan hanya tertawa mendengarku mengatakan kata “Gombalisasi” tadi, aku akui ini penyalahgunaan bahasa Indonesia.
“ Apaan tuh gombalisasi? Udah kelas berapa sih kok ngga bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar?”
“ Hm… baru kelas 2 SD mas,” setelah itu aku mendengarnya tertawa.
                                                                                ***
Hari ini aku dibuatnya bingung lagi, tentang pengakuannya padaku kalau dia menyimpan rasa aneh yang aku pun tak mengerti rasa apa itu. Seperti biasa aku berpura-pura menganggap semua itu leluconnya saja, mana mungkin dia jatuh cinta padaku? Padahal dia tak pernah bertemu denganku, jadi lucu, kan? Sebenarnya aku juga bingung harus bersikap seperti apa karena aku juga merasakan apa yang dia rasakan, kalau dipikir secara logika sih… ini  sekedar rasa semu yang dirasakan gadis berumur 17 tahun sepertiku dan laki-laki berumur 18 tahun seperti Alan. Aku harus segera selesaikan rasa semu ini.
“ Jadi menurutmu rasa ini semu?” tanyanya begitu kelu ku dengar, seperti biasa kami hanya bicara lewat via telepon
“ Ya, kamu harus yakinkan diri kamu kalau apa yang kau rasakan hanya semu!” aku berusaha setenang mungkin
“ Va, aku sudah memikirkan ini matang-matang, dan ku rasa mungkin aku mencintai  kamu, dan aku selalu butuh kamu”
“ Mungkin?! Itu hal yang wajar, aku menemani kamu sms dan telepon setiap hari jadi tak salah jika tiba-tiba kamu merasa seperti itu, tapi yang jelas ini bukan cinta seperti yang kamu maksud” aduh Alan, jangan buatku tambah bingung dan tak mengerti.
“ Lalu aku harus bagaimana menghadapi rasa ini?”
“ Yakinkan dirimu kalau itu hanya rasa yang semu” aku terus mengulang kalimat itu, aku tak mau terperangkap oleh permainan seperti ini lagi pula aku tak mempercayai Alan seutuhnya, maafkan aku Alan…!!
                                                                ***
Alan belum menghilang dari duniaku, dia tetap menghubungiku setiap hari. Tak ku pungkiri aku bahagia, dan entahlah tiba-tiba aku suka dia memperlakukanku lebih dari sekedar teman, bahkan terkadang aku biarkan dia menghambur sayangnya padaku, karena aku juga menyayanginya tapi aku tak ingin melebih-lebihkan semua ini. Terkadang aku berpikir jika suatu saat tanpa sengaja aku bertemu dengan Alan mungkin sikapku akan kaku, dan sulit menyapanya seperti yang biasa ku lakukan di telepon. Aku berpikir lagi, Alan aku sangat menyayangi kamu tapi aku tak ingin kita lebih dari sekedar teman... lebih baik kita lihat semuanya nanti.




                                                                                          

1 komentar:

Halimatus Sholihah said...

Pengen tau ajha atau pengen tau banget :p

Post a Comment