Sunday, September 30, 2012

PERMEN, PUISI DAN GUCI



Suatu senja,
Kau mengajakku bertandang ke rumahmu yang mungil
Di sana, serpihan-serpihan puisi menggigil
Kau melukisnya setiap hari
Namun kau kehilangan nyali untuk berlari
Demikian aku...

Senja berikutnya,
Matamu berkaca menatap guci dalam kaca
Sekian tahun kau merawatnya
Hingga guci itu sesak oleh kenangan manis tentang rasa
Namun tanganmu bergetar,
Kau kehilangan kekuatan untuk menyentuhnya
Demikian aku...

Senja terakhir,
Kita membeli permen di pasar yang sama
Bagiku, permen seharga 250 itu istimewa
Setiap gigitannya membuatku terkenang-kenang sepanjang usia
Tidak demikian kau...

Rupanya kau lebih suka guci dalam kaca
Dari pada permen yang katamu sepah tanpa rasa
Belakangan aku tahu, kau lebih beruntung dariku
Kau lupa puisi, kau pecahkan rupa guci
Sedang aku masih di sini, dengan permen tergenggam rapi

Dan, permen itu..
Gulanya melebur di setiap aliran darahku
Maka..
Apakah aku harus kehilangan semua darah di tubuhku,
Saat waktu memaksaku lupa,
Pada segala tentangnya?

*puisi dari Bidadari pendengar dongeng :-)

0 komentar:

Post a Comment