Suatu senja,
Kau mengajakku
bertandang ke rumahmu yang mungil
Di sana, serpihan-serpihan
puisi menggigil
Kau melukisnya
setiap hari
Namun kau
kehilangan nyali untuk berlari
Demikian
aku...
Senja berikutnya,
Matamu berkaca
menatap guci dalam kaca
Sekian tahun
kau merawatnya
Hingga guci
itu sesak oleh kenangan manis tentang rasa
Namun tanganmu
bergetar,
Kau kehilangan
kekuatan untuk menyentuhnya
Demikian
aku...
Senja terakhir,
Kita membeli
permen di pasar yang sama
Bagiku,
permen seharga 250 itu istimewa
Setiap gigitannya
membuatku terkenang-kenang sepanjang usia
Tidak
demikian kau...
Rupanya kau
lebih suka guci dalam kaca
Dari pada
permen yang katamu sepah tanpa rasa
Belakangan aku
tahu, kau lebih beruntung dariku
Kau lupa
puisi, kau pecahkan rupa guci
Sedang aku
masih di sini, dengan permen tergenggam rapi
Dan, permen
itu..
Gulanya melebur
di setiap aliran darahku
Maka..
Apakah aku
harus kehilangan semua darah di tubuhku,
Saat waktu
memaksaku lupa,
Pada segala
tentangnya?
*puisi dari Bidadari pendengar dongeng :-)

0 komentar:
Post a Comment