Sunday, September 30, 2012


Siang yang begitu panas, berkali-kali aku meneguk air yang baru saja ku beli. Aku merasa ayah terlalu lama membuatku menunggu hari ini, lelah sekali..
beberapa saat aku merasa menjumpai seseorang yang sepertinya pernah ku lihat, ya! Itu dia si gadis kecil yang kemarin meninggalkan suratnya di depan toko es krim ini, aku girang! setidaknya mungkin dia bersedia melanjutkan isi suratnya dan sedikit hilangkan penatku menunggu ayah terlalu lama. Tunggu dulu, sepertinya berbeda. Dia terlihat begitu kaku, menenteng kantong plastik hitam di tangan kirinya, juga ada seorang perempuan dewasa yang membuntutinya dari belakang.
dia hendak masuk ke toko es krim, namun tiba-tiba menoleh ke arahku, memperhatikanku dengan mata bulatnya yang ternyata masih begitu mempesona, aku baru sadar ada cekungan hitam yang begitu mengganggu di bawah matanya, bisa ku tebak dia baru saja menangis..
dia menghampiriku, tepat berdiri di depanku. Perempuan yang menemaninya sontak kaget saat si gadis kecil menyapa orang yang tak dikenal.
“ini...” seruku dengan senyum manis, lantas dia membalikkan badan, merobek kertas itu dan menghambur ke arah perempuan dewasa tadi yang ternyata adalah ibunya.

“kau menyimpan suratku yang kemarin itu kan?” tanyanya sungguh polos
Aku hanya mengangguk, lantas ia mengulurkan tangannya memberi isyarat untuk ku serahkan kertas yang dia maksud, untung saja aku benar-benar menyimpannya, ku buka tas-ku kemudian ku serahkan kertas kecil dengan tulisan yang begitu tulus itu.
‘dia begitu menyayangi bocah laki-laki yang dia panggil kakak kecil sejak 7 bulan yang lalu, teman bermainnya setiap hari, sebenarnya dia bukan gadis yang sering ditemani sepi, dia memiliki banyak teman entah kenapa hanya bocah laki-laki tadi yang begitu berpengaruh baginya, sekarang ketika kakak kecilnya harus pergi, dia malah menangis. Anakku yang begitu cerdas malah terlihat begitu bodoh, aku tak percaya anak kecil juga mengalami hal ini’ cerita sang ibu sambil sesekali menyeka air mata yang menetes begitu saja, aku terharu.Ternyata benar dugaanku, dia menulis surat itu untuk kakak kecil yang menemaninya membeli es krim beberapa waktu lalu.
Sayang, tak bisa ia lanjutkan surat itu, dilanjutkan pun tak mungkin sempat dibaca oleh kakak kecilnya. Si bocah kecil telah pergi, jauh tak terjamah dan aku sulit bercerita ke mana sebenarnya dia pergi. (hehe, bingung)
Aku bingung harus bagaimana berkomentar tentang kisah ini.  Aku hanya percaya; jatuh cinta, menyayangi, mencintai, dan menyukai tidak hanya dialami oleh kita yang mengaku telah dewasa. Anak kecil pun bisa jatuh cinta, merasa kehilangan dan sakit yang mendalam.
Dia hanya gagal mempertahankan komitmen atau prinsip untuk tak jatuh hati, Selesai

0 komentar:

Post a Comment